Kisah Teladan dan Nasehat

Ada seorang Santri suatu hari datang kepada kyai. Santri ini berpendidikan umum progresif. Sedangkan Si Kyai adalah seorang otodidak agama yang aktif. Si Santri memahami Islam secara tekstual. Sedangkan Si Kyai sebaliknya, mencerna agama ini secara kontekstual. Si Santri muda ini meletup-letup semangatnya. Sedangkan Si Kyai setengah baya ini yang tinggal di desa menonjol sikap tawadhu’-nya terutama terhadap ilmu.

Sekali waktu Santri tersebut mengusulkan sebuah seminar ilmiah kepada sang kyai di pondoknya. Seraya mengapit sehelai stofmap berisi proposal ketik apik komputer, mahasiswa yang pernah mengaji pada kyai ini menyodorkan topik bahasan bertema Telaah Kritis Atas Hadits Bukhari.


“Saya yakin peminatnya pasti banyak, kyai. Sebab, ini khan memang lagi trend-nya!,” ujar si Santri berapi-api. “Anak muda,” sahut Si Kyai, “Tema itu terlalu sombong untuk diangkat. Apakah kita sudah mengaca diri, siapa sih kita ini, kok beraninya mau mengkritik Bukhari.”

Kemudian Si Kyai melanjutkan penuturannya, bahwa betapa Imam Bukhari (wafat tahun 256 H) memang sudah pernah dikritik oleh para ulama hadits sekaliber berat, seperti Darqutny (wafat tahun 385 H), Al-Ghassany (wafat tahun 365 H), dan pakar ilmu-ilmu hadits lainnya. Tiga abad kemudian Ibnu Shalah (wafat tahun 643 H) dan Imam Nawawi (wafat tahun 676 H) juga melakukan hal yang sama, yaitu mengkaji dan menguji kodefikasi karya Bukhari dan akhirnya mereka sepakat memutuskan bahwa Shahih Bukhari merupakan kitab paling otentik sesudah Al-Qur’an. Para ahli mengakui bahwa abad III dan VI adalah merupakan masa matang dan suburnya karya ilmiah, terutama di bidang studi hadits.

Si Santri kemudian menyela, “Tapi kyai, berdasarkan fakta, ada beberapa hadits di dalam Bukhari yang tidak sejalan dengan logika dan tak relevan dengan sejarah. Bahkan ada yang bertentangan dengan sains modern.”
Si Kyai pun lalu menjawab, “Hadits-hadits riwayat bukhari itu sejalan dengan logika. Jika kamu tak paham, barangkali logikamu sendiri yang belum cukup peka untuk menangkapnya. Pikiran seperti itu mirip telaah para orientalis yang hanya berdasarkan prakonsepsi. Justru menurut saya, metodologi hadits yang dikembangkan Bukhari dalam seleksi mata rantai perawi yang begitu njlimet (kompleks) merupakan khazanah kita yang paling besar. Sesuatu yang (apalagi saat itu) jarang dikerjakan oleh ahli sejarah manapun dalam menelusuri sumber-sumber berita. Sebuah karya monumental yang tak tertandingi!.” Dengan agak menyesal, Si Santri muda itu berkata lagi, “Lantas topik apa pula yang cocok untuk seminar, biar kelihatan wah begitu?.”

Si Kyai menyahut :
“Bikinlah seminar di dalam dirimu sendiri, dengan tema yang pas mungkin Sudah Sejauh Mana Kita Merealisasikan Sunnah Nabi Dalam Kehidupan Sehari-hari. Barangkali refleksi seperti ini akan lebih bermanfaat ketimbang kamu harus mengerjakan yang muluk-muluk, tak ketahuan juntrung faedahnya. Malahan dampaknya dapat diduga lebih dahulu, yaitu akan membuat orang awam jadi kian bingung.”

Sadar disindir, Si Santri hanya tersenyum kecut. Mengakhiri nasehatnya, Si Kyai berkata, “Anak muda!, jadilah penyuluh tuntunan, jangan jadi tontonan.” Si Santri tersebut akhirnya kembali bermukim di desa dan menekuni kitab kuning.




Renungan Kita... Kasih Sayang Bunda...



Alkisah di sebuah desa yang tenteram ada seorang anak yg masih SMP dan hanya memiliki ibu. Tetapi, anak itu sangat membenci ibunya, Itu hanya karna ibunya memiliki mata satu yang ia sendiri tidak tahu mengapa bisa begitu. Anak yang membenci ibunya itu sampai-sampai tidak menganggap kalau dia masih mempunyai ibu. karena itulah si anak merantau ke kota.


Sudah 5 tahun si anak meningalkan kampung halamannya ia mendapat istri dari anak pejabat kaya dan dia pun menjadi orang kaya. Dan 10 tahun sudah berlalu, anak itu sudah mempunyai 2 anak, laki2 dan perempuan. Lalu ibunya yang dari desa mencari anaknya di kota karena sudah 10 tahun tidak bertemu.


Sampai pada akhirnya sang ibu menemukan rumah anaknya. Ibu itupun langsung terkejut ketika melihat rumah anaknya begitu besar!!! lalu pada saat mengetuk pintu rumah itu, cucunya membukakan pintu. Lalu cucunya berkata "PAPAAA, MAMAA ADA ORANG GILAA DATANGG KERUMAAH!!".Anak ibu itu yang sudah menjadi kaya menemui ibu itu lalu berkata "maaf ibu ini siapa ya??". Sang ibu menjawab "nak ini ibu nak, tidakkah kamu ingat??" sang istri berkata "sayang, kamu punya ibu kok gak bilang2?". lalu anaknya ibu itu berkata "tidak, ibuku sudah lama meninggal. Lagipula ibuku tidak cacat seperti dia!". sang anak mengusir ibunya sendiri.


Beberapa bulan kemudian sang anak ingin menemui ibunya untuk sekedar bertemu saja, lalu dirumah sudah tak ada siapa2. Ia bertanya ke penduduk, lalu penduduk itu menjawab "ibu kamu 2 hari yang lalu meninggal." dengan santai sang anak menjawab "oh,baguslah sudah tak ada pengganggu lagi", lalu penduduk itu bilang "sebelum dia meninggal dunia, ibumu meninggalkan surat" penduduk itu memberikan surat itu ke sang anak. lalu sang anak membaca dan entah kenapa sang anak menangis dan bersujud.


Surat itu berisi : "Wahai anakku, ibu tahu kalau kamu benci ibu karena ibu hanya memiliki 1 mata. tapi sesungguhnya, waktu kamu lahir matamu hanya satu. karena ayahmu kesal ia meninggalkan ibu sendiri, lalu karena ibu kasihan kepadamu, akhirnya ibu memberikan 1 mata ibu hanya untukmu nak.... ibu tidak bilang ini karena ibu takut kamu bersedih. tetapi kamu malah membenci ibu. maafkan ibu nak karena tidak berguna didunia ini."


Pesan moral: hargailah ibu kita sendiri, jangan pernah menyia2kan dan mengecewakan ibu kita, Minta maaflah kepada ibu anda sekarang juga jika pernah menyakiti hatinya.




Kisah Sahabat Bilal bin Rabbah

( Sahabat, wafat pada tahun 20 H, dalam usia 60 tahun ) Mu`adzin pertama yang selalu suci.
Sebagai keturunan Afrika mewarisi warna kulit hitam, rambut keriting, dan postur tubuh yang tinggi. Khas orang Habasyah ( Ethiopia sekarang ). Bilal pada mulanya adalah budak milik Umayyah bin Kholaf, salah seorang bangsawan Makkah. Karena keislamannya diketahui tuannya, Bilal disiksa dengan amat keras, hinggga mengundang reaksi dari Abu Bakar yang kemudian membebaskannya dengan sejumlah tebusan. Karena tebusan ini, Bilal mendapat sebutan Maula Abu Bakar, atau orang yang dibeli untuk bebas oleh Abu Bakar, bukan untuk dijadikan budak kembali.


Muhammad bin Ibrahim at-Taimy meriwayatkan , suatu ketika Rasulullah wafat dan belum dikubur, Bilal mengumandangkan adzan. Saat Bilal menyeru : Asyhadu anna Muhammmadarrasulullah…., orang-orang yang ada dimasjid menangis. Tatkala Rasulullah telah dikubur, Abu Bakar berkata "Adzanlah wahai Bilal". Bilal menjawab, "Kalau engkau dahulu memebebaskanku demi kepentingannmu, aku akan laksanakan, Tapi jika demi Allah, maka biarkan aku memilih kemauanku." Abu Bakar berkata "Aku membebaskanmu hanya demi Allah'. Bilal berkata," Sungguh aku tak ingin adzan untuk seorang pun sepenimggal Rasulullah ". Kata Abu Bakar, "Kalau begitu terserah kau".


Zurr bin Hubaisy berkisah, yang pertama menampakkan keislaman adalah Rasulullah, kemudian Abu Bakar, Ammar dan ibunya, Shuhaib, Bilal dan Miqdad. Rasulullah dilindungi pamannya, Abu Bakar dibela sukunya, Adapun yang lain orang-orang musyrik menyiksa mereka dengan memakai baju besi dibawah terik matahari. Dari semua itu yang paling terhinakan adalah Bilal karena paling lemah posisinya ditengah masyarakat.
Orang-orang musyrik menyerahkannya kepada anak-anak untuk diarak ramai-ramai dijalan-jalan Makkah. Ia tetap tegar dengan selalu menyatakan , Ahad…Ahad… Bilal mendapat pendidikan zuhud langsung dari Rasulullah. Suatu ketika Rasulullah dtang kepada Bilal yang disisinya ada seonggok kurma. Rasulullah : "Untuk apa ini, Bilal ?" Bilal, "Ya, Rasulullah aku mengumpulkannya sedikit demi sedikit untukmu dan untuk tamu-tamu yang datang kepadamu." Rasulullah, "Apakah kamu tak mengira itu mengandung asap neraka ?" Infakkanlah, jangan takut tidak mendapat jatah dari Pemilik Arsy."


Buraidah mengisahkan, suatu pagi Rasulullah memanggil Bilal, berkata , " Ya Bilal, dengan apa kamu mendahuluiku masuk syurga ? Aku mendengar gemerisikmu didepanku. Aku ditiap malam mendengar gemerisikmu." Jawab Bilal "Aku setiap berhadats langsung berwudhu dan sholat dua raka`at." Sabda Nabi S.A.W," Ya, dengan itu ".




Wali Allah Yang Shalat Di Atas Air

Sebuah kapal yang sarat dengan muatan dan bersama 200 orang termasuk ahli perniagaan berlepas dari sebuah pelabuhan di Mesir. Ketika kapal itu berada di tengah lautan maka datanglah angin ribut disertai petir dengan ombak yang kuat membuat kapal itu terombang-ambing dan hampir tenggelam. Berbagai usaha dibuat untuk mengelakkan kapal itu dari pukulan ombak, namun semua usaha mereka sia-sia saja. Kesemua orang yang berada di atas kapal itu sangat cemas dan menunggu apa yang akan terjadi pada kapal dan diri mereka.


Ketika semua orang berada dalam keadaan cemas, terdapat seorang lelaki yang sedikitpun tidak merasa cemas. Dia kelihatan tenang sambil berzikir kepada Allah s.w.t.. Kemudian lelaki itu turun dari kapal yang sedang teronbang-ambing dan berjalan di atas air kemudian mengerjakan solat di atasnya. Beberapa orang pedagang yang bersama-sama dalam kapal itu melihat lelaki yang berjalan di atas air dan dia berkata, "Wahai wali Allah, tolonglah kami. Janganlah tinggalkan kami!" Lelaki itu tidak memandang ke arah orang yang memanggilnya. Para pedagang itu memanggil lagi, "Wahai wali Allah, tolonglah kami. Jangan tinggalkan kami!"


Kemudian lelaki itu menoleh ke arah orang yang memanggilnya dengan berkata, "Ada apa ?" Seolah-olah lelaki itu tidak mengetahui apa-apa. Pedagang itu berkata, "Wahai wali Allah, tidakkah kamu khawatir tentang kapal yang hampir tenggelam ini?" Wali itu berkata, "Dekatkan dirimu kepada Allah s.w.t.." Para penumpang itu berkata, "Apa yang mesti kami perbuat?" Wali Allah itu berkata, "Tinggalkan semua hartamu, jiwamu akan selamat." Kesemua mereka sanggup meninggalkan harta mereka. Asalkan jiwa mereka selamat. Kemudian mereka berkata, "Wahai wali Allah, kami akan membuang semua harta kami asalkan jiwa kami semua selamat."


Wali Allah itu berkata lagi, "Turunlah kamu semua ke atas air dengan membaca Bismillah." Dengan membaca Bismillah, maka turunlah seorang demi seorang ke atas air dan berjalan menghampiri wali Allah yang sedang duduk di atas air sambil berzikir. Tidak berapa lama kemudian, kapal yang membawa muatan ratusan juta itu pun tenggelam ke dasar laut.
Habislah semua barang-barang yang mahal-mahal terbenam ke laut. Para penumpang tidak tahu apa yang hendak diperbuat, mereka berdiri di atas air sambil melihat kapal yang tenggelam itu.


Salah seorang dari pedagang itu berkata lagi, "Siapakah engkau wahai wali Allah?" Wali Allah itu berkata, "Saya ialah Awais Al-Qarni." Pedagang itu berkata lagi, "Wahai wali Allah, sesungguhnya di dalam kapal yang tenggelam itu terdapat harta fakir-miskin Madinah yang dihantar oleh seorang jutawan Mesir." Wali Allah berkata, "Sekiranya Allah s.w.t. kembalikan semua harta kamu, adakah kamu betul-betul akan memberikannya kepada orang-orang miskin di Madinah?" Pedagang itu berkata, "Betul, saya tidak akan menipu, ya wali Allah."


Setelah wali itu mendengar pengakuan dari pedagang itu, maka dia pun mengerjakan solat dua rakaat di atas air, kemudian dia memohon kepada Allah s.w.t. agar kapal itu ditmunculkan kembali bersama-sama hartanya. Tidak berapa lama kemudian, kapal itu muncul sedikit demi sedikit sehingga terapung di atas air. Kesemua barang dan lain-lain tetap seperti semula. Tidak ada yang kurang. Setelah itu dinaikkan kesemua penumpang ke atas kapal itu dan meneruskan pelayaran ke tempat yang dituju. Setelah sampai di Madinah, pedagang yang berjanji dengan wali Allah itu terus menunaikan janjinya dengan membagikan harta kepada semua fakir miskin di Madinah sehingga tiada seorang pun yang tertinggal. Wallahu a'alam.


Cerita penuh makna "Dosa2 Kecil"

Dua orang pendosa mengunjungi seorang saleh dan meminta nasihatnya. "Kami telah melakukan kesalahan", kata mereka, "dan suara hati kami terganggu. Apa yang harus kami lakukan agar diampuni?"


"Katakanlah kepadaku, perbuatan-perbuatan salah mana yang telah kamu lakukan, anak-anakku", kata orang tua itu.


Pria pertama berkata,"Saya melakukan suatu dosa berat dan mematikan."


Pria kedua berkata,"Saya telah melakukan beberapa dosa ringan, yang tidak perlu dicemaskan".


"Baik", kata orang tua saleh itu. "Pergilah dan bawalah kepadaku sebuah batu untuk sebuah dosa."


Pria pertama kembali dengan memikul sebuah batu yang amat besar. Pria kedua dengan senang membawa satu tas berisi batu-batu kecil.


"Sekarang", kata orang tua itu, "pergilah dan kembalikan semuanya ke tempat di mana kamu telah menemukannya."


Pria pertama mengangkat batu itu dan memikulnya kembali ke tempat di mana ia telah mengambilnya. Pria kedua tidak dapat mengingat lagi tempat dari setengah jumlah batu yang diambilnya, maka ia menyerah saja dan membiarkan batu-batu itu di dalam tasnya. Katanya, pekerjaan ini terlalu sulit.


"Dosa itu seperti batu-batu itu", kata orang tua itu. "Jika seseorang melakukan suatu dosa berat, hal itu seperti sebuah batu besar dalam suara hatinya. Tetapi dengan penyesalan yang sejati kesalahan itu akan diampuni seluruhnya. Tetapi pria yang terus menerus melakukan dosa-dosa ringan dan ia tahu hal itu salah, akan semakin membekukan suara hatinya dan ia tidak menyesalinya sedikit pun. Maka ia tetap sebagai seorang pendosa.


"Maka ketahuilah anak-anakku", saran orang saleh itu,"adalah sama pentingnya untuk menolak dosa-dosa ringan seperti menolak dosa-dosa berat."  



1 komentar:

  1. MOGA CERITA-CERITA YANG MENGANDUNG HIKMAH DAPAT DIAMALKAN OLEH WARGA BESAR MTS N 1 MATARAM

    BalasHapus